Komunitas Astronomi Dayah Insan Qurani melakukan kunjungan belajar ke Observatorium Tgk Chik Kuta Karang Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh, Senin (28/10/2019). Selain belajar ilmu falak, santri juga ikut melaksanakan rukyatul hilal bersama staf observatorium di gedung tepi laut Lhoknga itu. 

Santri tiba pukul 17.30 WIB dan langsung diarahkan ke ruangan observasi di lantai dua gedung observatorium. Di sana, santri disambut staf observatorium yang sedang melakukan kalibrasi teleskop untuk keperluan rukyatul hilal awal bulan Rabiul Awal 1441 Hijriyah. 

Staf menjelaskan prosedur dan peralatan rukyatul hilal. Selanjutnya santri dipersilakan mencoba 4 teleskop berbeda yang tersedia. Mulai teleskop manual, hingga yang otomatis yang dapat bergerak mencari bulan hanya dengan menekan remotnya saja. Staf observatorium juga menjelaskan perbedaan masing-masing teleskop pada santri, juga menjawab setiap pertanyaan yang diajukan.

Muhammad Raihan, santri kelas 2 MA Insan Qurani yang ikut dalam pengamatan menyebutkan bahwa ini kali kedua dirinya berkunjung ke observatorium dan ikut pengamatan bersama tim. “Dulu pernah kemari waktu kelas 1. Seru bisa belajar falakiyah langsung ke pusat observasi hilal. Bisa praktek langsung apa yang sudah dipelajari di dayah. Banyak teleskop juga yang bisa dicoba.” Katanya.

Ust. Aznur Johan, SHI, pembina komunitas astronomi Insan Qurani menjelaskan bahwa dayah Insan Qurani memiliki banyak kelompok pengembangan bakat minat santri, salah satunya adalah komunitas astronomi. 

Santri yang tergabung di kelompok khusus tersebut dibekali pengetahuan ilmu falak. Seperti berbagai teknik ukur arah kiblat, menghitung waktu shalat, sistem penanggalan hijriyah dan qamariyah, fajar shadiq, dan lainnya.

“Kami mendorong santri untuk mampu menguasai ilmu falak. Sebab kini kader ilmu falak Aceh semakin sedikit. Padahal kita menggunakannya setiap hari untuk kesempurnaan ibadah, seperti untuk menentukan arah kiblat dan menghitung waktu shalat.” Ujarnya. 

Alumnus Jurusan Ilmu Falak UIN Walisongo Semarang itu menambahkan bahwa ilmu falak merupakan salah satu cabang ilmu yang penting bagi umat Islam. 

“Jangan sampai kita hanya bergantung ke teknologi siap guna seperti aplikasi di android, tapi melupakan akar dan alur perhitungannya. Kita berharap ke depan, bisa lahir pakar-pakar falakiyah baru dari Insan Qurani.” Lanjutnya. 

Sampai batas waktu pengamatan berakhir pada pukul 18.41 WIB, hilal tidak dapat diamati. Ustadz Rahmatul Fahmi, staf observatorium, menjelaskan kondisi ufuk barat saat maghrib berawan sehingga menutupi kenampakan hilal yang berada di ketinggian 4 derajat 13 menit 54 detik sore itu.