Pernah nggak sih saat diskusi dengan teman, tiba-tiba kamu menangkap pembicaraan temanmu nggak nyambung dengan apa yang sedang kamu bicarakan? Dia menggunakan argumen yang tidak ada hubungannya sama sekali, baik disengaja maupun tidak disengaja. Keadaan seperti ini disebut dengan logical fallacy, atau kesalahan berfikir.

Logical fallacy ini timbul dari ketidakmampuan seseorang untuk berfikir kritis, sehingga kesimpulan dalam pembicaraannya keluar dari pokok permasalahan. Hal ini juga sering dieksploitasi oleh buzzer di media sosial untuk menyambung-nyambungkan suatu masalah dengan alasan yang dibuat-buat untuk mengecoh lawan debat atau membangkitkan amarah orang lain sehingga mendorongnya keluar dari topik pembicaraan utamanya.

Nah, hal ini ternyata menarik perhatian sejumlah santri kelas XI Dayah Insan Qurani dan membawa topik logical fallacy dalam diskusi ilmiah mingguan, Sabtu malam kemarin (6/3/2021). Diskusi ini diselenggarakan oleh Departemen Jurnalistik dan Humas OSDIQ dan di bawah pengawasan pembina.

Dalam diskusi tersebut, sejumlah santri mencoba untuk menggali contoh-contoh logical fallacy yang sering mereka temukan dalam kehidupan sehari-hari, penyebab mengapa kekeliruan berfikir ini bisa terjadi, dan juga bagaimana cara mencegahnya.

Satu persatu santri menyebutkan contohnya. Misalnya, penyalahgunaan izin pulang santri. Ia meminta izin pada pembina untuk pulang ke rumah bersama orang tuanya guna keperluan tertentu, padahal ia berencana keluar untuk berjalan-jalan dengan temannya. Ia berfikir, jika membawa nama orang tua, maka izinnya akan dipermudah. Sehingga ia menggunakan argumen itu untuk mengelabui pembinanya atau menipu demi mencapai tujuannya. Hal seperti ini selain termasuk logical fallacy, juga masuk dalam akhlak tercela yang sangat terlarang. Jangan ditiru ya, teman-teman!

Contoh lain adalah pada penyetaraan wanita pemakai cadar sebagai pelaku kejahatan atau terorisme. Hal ini banyak ditemui di Eropa dan memicu sikap antipati warga terhadap muslimah di sana. Masyarakat Eropa terpengaruh dengan pemberitaan di media yang sering menyebut jihadis Islam melakukan pembunuhan di negara-negara berkonflik, seperti di Timur Tengah. Hal yang sama juga beberapa kali terjadi di Eropa.

Pelabelan jihadis Islam oleh media itu memunculkan sikap islamophopia, sebuah sikap antipati terhadap komunitas muslim, termasuk memunculkan isu larangan penggunaan cadar. Memangnya semua orang Islam itu teroris dan semua teroris itu beragama Islam? Kan tidak. Cadar juga bukan bagian dari senjata teroris, tapi kenapa mereka bisa tidak membolehkan orang pakai cadar ya? Aneh banget.

Ada lagi contoh lainnya, seorang santri yang dulu pernah nakal, akan terus dikenal sebagai santri nakal meski pada saat itu ia sedang tidak nakal. Bahkan bila kini ia tidak lagi nakal. Padahal kita tahu, seseorang bisa saja berubah dan menjadi pribadi yang lebih baik di masa depan. Bukankah Allah itu Yang Maha membolak-balikkan hati? Justifikasi seorang santri yang pernah nakal akan terus nakal selamanya juga bagian dari kesalahan berfikir.

Menurut ustadz Rahmatul Fahmi, logical fallacy ini bisa muncul secara tidak sengaja karena kelemahan seseorang dalam berfikir kritis, namun bisa juga disengaja untuk mengacaukan fikiran seseorang. Misalnya digunakan buzzer anonim untuk menyerang pribadi seseorang saat menangkis kritikannya pada pemerintah atau orang lain yang menyewanya. Padahal tidak ada hubungannya antara masalah pribadi dengan kritikan terhadap program-program pemerintah, misalnya.

Untuk menghindari logical fallacy, seseorang perlu memahami persoalan dengan utuh dan melatih kemampuan berfikir kritis. Di samping itu ia juga harus menggunakan argumen yang koheren dengan pokok permasalahan atau tidak bertentangan.

Dalam diskusi tersebut, santri juga sepakat untuk menerapkan hasil diskusi untuk memperbaiki kesalahan berfikir di sekitarnya, terutama pada dirinya sendiri dalam menjalankan kegiatan berorganisasi.

Nadya Qathrun Nada dan Awra Silmina