Oleh : Ahmad Kamil Baba 

Rintik hujan malam itu seakan enggan berhenti, setiap detiknya bahkan turun semakin deras, tumpah ruah membasahi permukaan bumi. Sudah hampir seminggu awan kelabu menaungi langit Aceh, menutupi perairan Sabang hingga ke ujung Singkil sana. Menjanjikan deraian rahmat bagi para manusia yang mau mengambil hikmahnya. Nyanyian katak sayup-sayup terdengar di bantaran pematang sawah yang mulai terendam air. Begitu pula koloni semut yang mulai naik ke lantai-lantai bangunan, mengungsi dari sarangnya yang mulai tergenang air.

Meskipun cuaca tak bersahabat, panitia Pelantikan terlihat begitu semangat bekerja. Pakaian mereka basah kuyup, namun bara api semangat seakan semakin memompa sanubari mereka. Tak kenal lelah mereka menyiapkan pagelaran besar tahunan ini. Berbagai perlengkapan mulai didatangkan sejak sore hari, tempat mulai di sterilkan berikut gladi bersih yang tak lupa dilaksanakan. Kami yang juga pernah berada diposisi yang sama salut dan kagum, syukur semangat keikhlasan itu terwarisi dengan baik.

Sejujurnya, acara malam itu sangat bernilai bagi kami. Kesan emosional yang begitu mendalam kami rasakan. Bagaimana tidak, pengurus yang purna jabatan malam tadi merupakan adik-adik yang tinggal sekamar dengan kami saat masih santri kelas 4 dulu. Umur mereka hanya terpaut 2 tahun dengan kami. Keakraban dan kekeluargaan yang terbina dengan baik terus berlanjut sampai saat kami mengabdi di almamater kami ini. Teringat betul dulu mereka dengan tingkah lugunya selalu menghibur kami, dmenjadi teman bercanda, juga adik sekamar yang baik. Kenangan indah yang jika terlintas dalam pikiran akan menjadi senyum dan gelak tawa.

Setahun terakhir ini menjadi sangat berkesan bagi kami, dimana kami diamanahkan menjadi pembina mereka. Senang karena bisa terus bermanfaat, berat hati juga karena sadar belum punya kapasitas lebih untuk membina mereka. Namun berbagai perbaikan terus kami usahakan selama perjalanan penuh lika liku tersebut. Dalam saat bersamaan, kami harus menjadi Guru, Ayah, Abang, dan teman sejawat bagi mereka. Meskipun terkadang peran itu belum sempurna kami jalankan. Setahun itu pula berbagai rentetan kegiatan bersama kami lalui. Senang jika semuanya sukses, juga terkadang sedih jika banyak dari mereka yang adakalanya melanggar. Teringat betul mereka yang sering curhat hingga tengah malam, mereka yang sulit dibangunkan, mereka yang senang ke Masjid, mereka yang jarang mandi pagi, dan hal-hal unik lainnya yang takkan habis jika dibahas satu persatu.

Membina mereka pun tak sama dengan membina santri jenjang Tsanawiyah yang cenderung penurut. Psikologi mereka sebagai remaja tanggung yang sedang mencari jati diri membuat kami harus sering-sering memanggil mereka, menasehati mereka, serta mengawasi betul gerak gerik mereka. Karena membina kelas akhir harus benar-benar mengedepankan ‘Suhbah’ yang baik serta teladan yang inspiratif. Mereka sudah bisa menilai secara konkrit siapa yang mengasuh mereka sepenuh hati dan siapa yang hanya sekedar menjalankan tugas atau mencari muka. Ini menjadi tantangan tersendri bagi kami ditengah perkembangan mereka yang semakin selektif dan objektif dalam menilai seorang guru.

Semua rintangan ini menjadi sangat indah jika dilalui tanpa banyak protes dan mengeluh.

Betul kata Ust. Muzakkir, cara terbaik membina santri adalah bersahabat dengan mereka. Perkuat ikatan kita dengan murid sehingga mereka selalu kembali kepada kita jika ada suatu masalah, jalin silaturrahmi yang baik agar mereka selalu berbagi cerita kepada kita baik suka maupun duka, beri apresiasi kepada mereka jika berprestasi, tegur dan nasehati mereka jika mereka berbuat salah, jangan pernah membanding-bandingkan mereka dengan siapapun, karena hakikatnya semua santri punya kelebihan masing-masing. Teruslah berupaya agar mereka sadar bahwa kitalah orang tua mereka selama berada di Dayah. Selain itu, mereka juga butuh peran kita sebagai abang, yang siap melindungi mereka dikala sedang takut dan resah. Juga sebagai teman, dimana kita bisa berbagi gurauan dan canda tawa.

Teringat kalau diantara mereka banyak yang pecinta Vespa. Maka jadilah setiap liburan kami berkendara bersama menuju berbagai destinasi wisata. Sendiri lebih cepat, bersama lebih jauh.

Selamat purna tugas Anak-anak Kami…

Lebih kurang setahun penuh kalian mengemban amanah suci ini, tentu banyak rintangan dan cobaan yang telah kalian hadapi. Begitu pula kecamuk mental dan nurani yang semakin mengokohkan jati diri kalian menjadi Insan yang dewasa, mandiri, dan Qur’ani. Berbagai harapan yang dulunya kalian impikan kini satu persatu telah terwujudkan, semuanya tak lepas dari usaha dan kerja keras kalian yang begitu mengesankan. Doa terbaik kami selalu bersama ananda sekalian. Semoga sukses dunia akhirat dan menggapai masa depan yang lebih gemilang.

Insan Qur’ani, 21 Januari 2023.