Oleh: Lubna Azka Syakira (Santri Madrasah Aliyah Insan Qur’ani)

Dunia pendidikan terus mengalami perubahan dari masa ke masa. Jika tidak ada perubahan, maka kualitas pendidikan patut dipertanyakan. Selain itu, tantangan dalam pendidikan juga semakin beragam seiring dengan arus perkembangan zaman yang semakin berkembang. Di antara tantangan pendidikan saat ini adalah harus menghasilkan lulusan yang bukan hanya kompeten, namun juga berkarakter. Tantangan yang semakin kompleks ini, menuntut guru untuk melakukan inovasi dalam memudahkan proses pembelajaran. Salah satunya dengan menggunakan perangkat lunak maupun keras. Pemanfaatan teknologi informasi dan perangkat lunak yang interaktif dikemas ke dalam digitalisasi sekolah. Ini adalah jalan untuk memperkaya pendidikan dengan mengintegrasikan teknologi ke kelas tradisional.

Digitalisasi sekolah adalah sebuah konsekuensi logis dari perubahan zaman. Melalui perubahan zaman itu pula, nilai adaptasi untuk bisa menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi mutlak dibutuhkan. Program Digitalisasi Sekolah juga merupakan pendayagunaan teknologi sebagai aspek dalam sistem pembelajaran, mulai dari kurikulum hingga sistem administrasi pendidikan. Program ini tentunya mempunyai dampak positif maupun dampak negatif. Dampak positif dan negatif ini tergantung bagaimana cara kita menggunakan teknologi yang ada. Beberapa dampak positifnya yakni dapat memudahkan kita untuk mendapatkan informasi dan materi pembelajaran, munculnya berbagai metode pembelajaran baru yang memudahkan proses belajar siswa dan guru, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui pengembangan dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Adapun, salah satu dampak negatifnya yaitu berpengaruh pada kenakalan remaja.

Apa itu remaja?. Remaja adalah transisi dari masa anak-anak ke dewasa yang mana terjadi di antara usia 12-21 tahun. Dikutip dari Studocu.com.id, kenakalan remaja menjadi masalah sosial yang telah berlangsung sejak zaman dahulu. Beribu-ribu kasus setiap harinya terjadi dan menyebar luas di kalangan masyarakat. Kenakalannya sangat bervariasi, mulai dari bolos sekolah, merokok, balap liar, tawuran, hingga tindakan-

 

tindakan kriminal yang menyeret mereka ke dalamnya. Tidak sampai di situ saja, bahkan banyak remaja yang telah mencicipi minuman beralkohol dan jajanan terlarang lainnya.

Sekarang, dengan masuknya dunia digitalisasi, kenakalan remaja semakin banyak jenisnya. Meskipun digitalisasi merupakan langkah maju bagi masyarakat dalam banyak hal, akan tetapi digitalisasi juga dapat menimbulkan resiko jika disalahgunakan oleh kelompok remaja tanpa batasan. Remaja bebas untuk mengakses segala hal tanpa batas, mendapatkan informasi dan menjalin relasi. Rasa ingin tahu yang tinggi dan penasaran akan sesuatu yang baru terkadang membawanya kepada hal-hal yang negatif. Seperti narkoba, seks bebas, komunitas terlarang, dan lain sebagainya. Sehingga dengan hal demikian, akan menghadirkan remaja yang nakal di lingkungan sekolah, maupun masyarakat.

Tetapi, pada esensinya, eksistensi digitalisasi di kalangan pelajar membalikkan ekspektasi pemerintah terhadap keuntungan digitalisasi itu sendiri. Perkembangan digital tidak hanya mempengaruhi melainkan juga mengubah karakteristik pelajar secara signifikan. Hal ini juga berpengaruh terhadap stimulus dan cara berpikir siswa disebabkan oleh paparan blue light dari layer gadget yang mempengaruhi kesehatan mata dan dampaknya merambat ke otak melalui sistem saraf. Dikutip dari HIMASKA HELIUM paparan blue light yang berlebihan khususnya saat malam hari dapat merusak retina melalui permukaan mata, merangsang otak, menghambat sekresi hormone melatonin, dan meningkatkan produksi kortikosteroid sehingga dapat merusak sekresi hormon yang secara langsung dapat mempengaruhi kualitas tidur seseorang.

Bisa dipastikan sebagian pihak tidak menyutujui bahwa penggunaan alat-alat digital di ruang lingkup pendidikan dapat memberikan dampak buruk bagi siswa. Konotasi “dampak buruk” tidak akan terwujud jika pelajar hanya menggunakan media digital untuk keuntungan pembelajaran. Fakta yang sering ditemukan sehari-hari, perizinan penggunaan gadget untuk keperluan pendidikan juga membuka peluang yang besar bagi pelajar untuk mengakses dunia luar.

Ada beberapa dampak media digital yang memicu turbulensi antara internal pendidikan dan eksternalnya. Pertama, kemudahan dalam mengakses konten pornografi. Pornografi mengakibatkan kerusakan pada lima bagian otak, terutama pada prefrontal corteks. Akibatnya bagian otak yang bertanggung jawab untuk logika akan mengalami cacat karena hiperstimulasi tanpa filter (otak hanya mencari kesenangan tanpa adanya

 

konsekuensi). Rusaknya otak akan mengakibatkan korban akan mudah mengalami bosan, merasa sendiri, marah, tertekan dan lelah. Dampak negatif lainnya adalah penurunan prestasi akademik, kemampuan belajar, dan sulit dalam mengambil keputusan. Anak- anak yang sedang berada di masa emasnya dalam menyerap informasi ini akan kesulitan selama berada di sekolah jika terpapar konten pornografi.

Kedua, ancaman pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Dengan segala kemajuan teknologi internet dan kemudahan akses, tidak menutup kemungkinan bagi seseorang atau komunitas untuk melakukan tindak plagiarisme. Salah satunya adalah pelanggaran hak cipta. Kemudahan ini juga berdampak pada sebagian siswa yang enggan dan malas untuk belajar, karena menganggap semua jawaban dari pekerjaan rumah dan latihan yang diberikan oleh guru dapat diakses dengan mudah melalui internet, hal ini terkadang membuat siswa menyepelekan proses belajar, seperti menghafal, memahami dan membuat catatan kecil yang dapat meningkatkan stimulasi otak.

Ketiga, peningkatan aksi Bullying di kalangan pelajar. Saat ini, berbagai video dan film sudah tersebar luas di ruang lingkup masyarakat, kurangnya perhatian orang tua dalam penyortiran tontonan anak dapat menimbulkan dampak buruk. Tontonan-tontonan yang mengandung unsur kekerasan sering kali memunculkan intuisi sang anak untuk melakukan hal yang serupa, tak heran begitu banyak kasus verbal bullying yang dialami siswa hanya karena terpengaruh tontonannya dan ingin menjadi seperti tokoh yang ditontonnya.

Meskipun digitalisasi merupakan awal menuju langkah yang baru bagi kehidupan masyarakat dalam berbagai aspek, pengaplikasian digitalisasi yang diluar batas juga memiliki dampak buruk terutama bagi pelajar yang belum bisa mengontrol emosinya dengan baik. Untungnya saat ini pihak pemerintah sedang gencar mencegah dampak buruk digitalisasi, tak hanya instansi pemerintah, peran guru dan orang tua juga sangat dibutuhkan dalam hal ini.

Berikut hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencegah penyalahgunaan digitalisasi di kalangan pelajar menurut UNICEF. Pertama, pihak orang tua dan guru harus mengawasi aktivitas digital yang dilakukan anaknya. Kedua, perlu dijelaskan perbedaan dalam pemanfaatan digitalisasi bagi orang dewasa dan anak-anak seusia remaja termasuk resiko penggunaan media digital, serta diberi batasan waktu dan tempat dimana mereka bisa memanfaatkan media digital dengan sebaik-baiknya. Ketiga, pihak-

 

pihak yang bertanggung jawab dengan keamanan sistem internet perlu meningkatkan proteksi terhadap konten-konten yang berbau negatif sehingga menjadikan dunia maya sebagai lingkungan yang aman bagi tumbuh kembang anak dan remaja.

Ketiga langkah di atas sangat dibutuhkan demi mengimpletasikan sistem digitalisasi yang baik dalam dunia pendidikan dan untuk mewujudkan upaya pencegahan dampak buruk digitaliasi tersebut perlu menciptakan korelasi yang baik antara pemerintah, lembaga pendidikan, orang tua dan masyarakat sekitar.