Ulama qiraat asal Mesir Syekh Sya’ban Abdul Fattah Uwais Muhammad dan Syekh Ahmad Muhammad Hasan mengisi Daurah Alquran dan Ilmu Qira’at di Dayah Insan Qurani Aceh Besar, Senin, 18 Maret 2024. Kedua ulama tersebut merupakan utusan Al-Azhar Kairo Mesir dan Majelis Hukama’ Muslimin.

Sekretaris Dayah Insan Qurani Alfirdaus Putra mengatakan, kunjungan kedua ulama asal Mesir tersebut ke Dayah IQ merupakan bagian dari agenda Syiar Ramadhan 1445 H yang diprakarsai Kemenag bekerjasama dengan Al-Azhar Mesir dan Majelis Hukama’ Muslimin. Khusus di Aceh mereka juga didampingi dan difasilitasi oleh Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh.

“Tentu ini suatu kemuliaan dan kehormatan bagi kami, kami bersyukur dan berterima kasih atas kehadiran para syekh ke dayah kami,” ungkapnya.

Alfirdaus menjelaskan, di Dayah Insan Qurani, kedua ulama ini memotivasi para santri untuk mendalami kajian Alquran, pentingnya belajar Alquran dan ilmu yang berkaitan dengannya, serta kemuliaan dan keutamaan menjadi hafizul quran.

Sementara itu, Syekh Sya’ban Abdul Fattah Uwais Muhammad mengatakan, para huffazh adalah hamba-hamba istimewa yang dipilih khusus oleh Allah untuk menjaga kemurnian kitab-Nya.

“Al-Qur’an itu mulia, maka tidaklah Allah memilih para pemeliharanya kecuali mereka adalah orang-orang yang mulia di sisi-Nya,” ujarny

Ia memotivasi para santri agar terus semangat dalam belajar, terutama ilmu agama. Ia menyampaikan, ilmu agama adalah warisan para nabi yang diwariskan dari generasi ke generasi hingga sampai pada zaman itu.

“Sehingga mereka yang fokus belajar agama berarti sedang menempuh jalannya para nabi dan ulama,” katanya.

Di sisi lainnya, ulama asal Mesir lainnya, Syekh Ahmad menyampaikan tentang pentingnya belajar ilmu agama kepada guru yang bersanad. Ia menegaskan, sanad merupakan bagian dari agama, maka setiap santri dituntut berhati-hati agar tidak sembarangan menerima maklumat dari sumber yang tidak jelas kebenarannya.

“Urgensi sanad sangat besar dalam Islam, sampai-sampai umat Islam dikenal dengan ‘ummatul Isnad.’ Demikian agar agama ini tidak mudah diotak-atik oleh mereka yang benci kepada Islam,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan kewajiban belajar ilmu tajwid dan mengamalkannya bagi setiap penghafal Al-Qur’an.

“Karena jika tajwidnya bermasalah, maka sangat besar potensinya merubah makna ayat hingga merusak tata bahasa Al-Qur’an. Bahkan, mereka yang salah membaca Al-Qur’an akan dihukumi berdosa, apalagi jika bermain-main dalam bacaan,” pungkasnya.

Berdasarkan jadwal, mereka akan berada di Aceh hingga 23 Maret mendatang.